top of page

Cabin Crew Story: Balas Dendam Terbaik

  • Writer: Raissa Gloria
    Raissa Gloria
  • May 7, 2020
  • 4 min read

Updated: Sep 14, 2020

Sebenernya ini kejadian udah lama banget, di bulan Desember tahun 2019. Tapi jadi salah satu yang memorable buatku, mungkin gara-gara timing-nya waktu itu disaat flight perdana ke Shanghai udah tinggal hitungan hari, atau bisa jadi sebagian besar karena faktor 'X', soalnya yang sharing cerita yang kutulis dibawah ini, gak lain seorang Chief pramugari yang karisma nya udah kaya Najwa Shihab.



Fast forward, kita satu batch dikumpulin di satu kelas, tujuan kelas yaitu sharing sebelum terbang solo perdana. Jadi kalo ibaratnya tentara, kita di-briefing dulu sebelum terjun ke medan perang. Badanku sempet merinding waktu aku sadar dalam hati "Glo, ini sekali seumur hidup loh. Kamu untuk pertama kalinya, naik ke pesawat jadi cabin crewnya, bukan jadi penumpang lagii!!"


Terus kita udah dapet bocoran, kalau kelas kali ini bakal dibawain sama Chief Pramugari. Kalo denger kata 'Chief Pramugari', itu rasanya badan menciut mendadak tahu gak. Alhasil kita yang cewe - cewe saling koreksi grooming di toilet; rambut sama make-up setidaknya harus on point sebelum ketemu sama doi karena pasti di cek sama dia satu-satu.


Begitu kubuka pintu kelas yaa, udah ada perempuan yang kira-kira umurnya 35 tahun, duduk manis di meja instructor, pake khaki pants dan sweater item, rambut di kuncir kuda, make-upnya minimalis banget dan surprisingly, dia pake sepatu teplek dan bukan sepasang killer heels. First Impression: 'kayanya doi gak ganas deh'. Yang di bayangan kita bakalan ketemu sama Cruella, tahunya malah ketemu Moana.


Ternyata Chief Pramugari ini, lucunya parah banget. Kita satu kelas bisa dibikin ketawa ngakak sama dia. Ada saatnya juga dia tanyain kita satu-satu tentang segala hal yang bikin kita khawatir dan takut untuk mulai terbang.


Sampai akhirnya di akhir kelas, Chief Pramugari yang disini aku panggilnya Elena aja yaa (Ps. tapi ini bukan nama aslinya dia), cerita tentang pengalaman pahitnya dia dulu. Ternyata orang yang sukses bikin kita ngakak selama 1 jam lebih itu, masa mudanya gak penuh tawa.


"Dulu waktu masih kecil, aku sempet di bully sama temen-temen sekelasku.. karena aku obesitas. Kalian percaya gak kalau aku bilang, berat badanku dulu sampai nyentuh 80 kg?" Rasanya kalo mukaku bisa dibikin animasi, ini dagu udah mendarat di lantai tahu gak. Karena ngeliat Elena sekarang, badannya udah kaya artis korea.


"Bahkan tiap lagi lomba lari, guru olahragaku sendiri suka bikin efek gempa bumi begitu aku sampai di garis finish. Dan temen-temen sekelasku, mereka semua ngetawain aku." Hebatnya, waktu Elena cerita kaya gini aku gak ngeliat beban sama sekali di matanya. Cara dia nuturin ceritanya itu loh, sama kaya waktu dia ngelawak di depan kelas sebelumnya. Beneran gak keliatan kalo dia simpen dendam ke orang-orang yang nge-bully dia. Entah dia bisa nutupin itu dibalik senyumnya, atau memang grudge itu gak pernah ada. Elena lanjut cerita kalo dia lahir dari keluarga yang kurang mampu, "Tapi aku punya mimpi, aku gamau ended up disana. Cara satu-satunya yaa pergi ke kota kalau mau hidupku berubah. Dan saat itu, aku cuma denger dari orang-orang tentang adanya pekerjaan pramugari. Kupikir 'ah mungkin ini jalannya'. Kalian tahu yang aku lakuin? Aku diet keras, tapi aku gak mau jelasin ke kalian secara rinci teknik dietnya. Karena korbannya, aku sampai kehilangan banyak rambut akibat diet kerasku itu."


Kuyakin bukan cuma aku yang sadar kalau Elena udah mau nangis, karena suaranya dia tiba-tiba berubah, sebelum akhirnya dia tetep senyum lagi buat ngelanjutin ceritanya "Tapi hidup itu lucu deh. Sejak aku keterima disini, bahkan bertahun-tahun kemudian , aku emang gak pernah cerita ke orang-orang di tempat tinggalku dulu kalau aku udah jadi pramugari. Sampai akhirnya suatu hari, ada undangan reuni dari sekolahku yang lama." Elena berdiri dari kursinya dan kita semua ngeliatin dia kaya mau nunggu klimaks yang penting.


"Aku putusin untuk datang ke acara reuni itu, but that day, i also decided that i will dress to kill " Kita seisi kelas langsung heboh waktu denger bagian ini "Yes, aku sengaja pilih dress yang model backless dan pakai heels paling tinggi. Aku sempetin ke salon buat modelin rambut. Dan waktu aku sampai di venue acara, mereka semua gak tahu aku ini siapa. Tapi tim yang bagian escort tamu, malah bawa aku untuk duduk satu meja sama petinggi-petinggi sekolahan. Kalian tahu gak, mereka semua dibelakang ngegosipin kalau aku ini siapa ?.."


Kita semua geleng-geleng kepala.


"Mereka pikir aku mistress (simpenan)-nya yang punya sekolah"


WHAT? ! HAHAHAHAHAHA


Denger ceritanya Elena itu bawa euphoria sendiri. She got her own revenge without hurting anybody. Rasanya tuh kaya nonton Pretty Woman, di bagian scene-nya Julia Roberts transformasi dan gemes ngeliat orang-orang yang ngerendahin dia itu terintimidasi sendiri sama aura nya dia yang baru.


Sebelum Elena tutup kelas hari itu, dia titip pesan ke kita "Pekerjaan ini emang berat, tapi kasih diri kalian waktu 3 bulan, dan setelah 3 bulan kalian boleh tanya ke diri kalian, 'apa pekerjaan ini memang buat aku?'"


Dan bagian yang paling bikin aku terharu, dia ngebagiin kita semua token yang dia bikin sendiri, dan ada kalimat yang ditulis tangan sama dia disitu "Just do it! You can!." Sampai sekarang, kertas token itu selalu kubawa setiap kali terbang. Aku selipin di dalam tas handbag ku, jadi no-go items selain passport, buku safety dan license terbangku. Dan cerita dari Chief pramugari ini selalu bikin aku mikir, kalau setiap kejadian jelek yang diizinin ada di hidup kita, tujuan akhirnya itu sebenernya untuk ngebuat diri kita jadi orang yang lebih baik.




Singapore, 7 Mei 2020

Comments


© 2023 by Jessica Priston. Proudly created with Wix.com

bottom of page