Is 'Wonder Woman' With You ?
- Raissa Gloria
- Jun 3, 2017
- 5 min read
Updated: May 7, 2020
How can a world that makes such a wonderful thing could be bad ? (Ariel, The Little Mermaid)
Rok biru berhiaskan bintang putih, atasan merah konservatif, yang sekilas mengingatkan kita akan bendera salah satu negara, membawa tali emas 'ajaib' yang bisa membuat semua manusia yang terikat olehnya mengatakan kejujuran ? Does it ring something to you?
76 tahun yang lalu, pasangan suami istri yang menciptakan dan menginspirasi pengembangan dan terbentuknya lie detector, menggambar wanita dengan atribut diatas ke dalam kertas hitam putih. Sejak saat itu, Amerika lebih mengenal karakter tersebut sebagai ikon feminisme. They call her, WONDER WOMAN

IF you're a big movie fan, you'll notice that hampir selama beberapa hari ini, Hollywood dan hampir seluruh bagian dunia diguncangkan oleh pahlawan super ini. And Forbes is right ! Film ini merupakan generasi film DC terbaik setelah Batman garapan Christopher Nolan dengan judul 'The Dark Knight' keluar hampir satu dekade yang lalu.
Salah satu kritikus paling mengerikan yang memanggil diri mereka, Rotten Tomatoes, terkenal dapat menghancurkan film-film Hollywood di minggu pertama hanya karena rating 'sadis' yang mereka berikan.
Salah satu website berita internasional menuliskan, "Rotten Tomatoes memberikan Wonder Woman rating 93% di malam Kamis kemarin, angka besar yang dengan mudah mengalahkan rating Batman v Superman di 28%, Suicide Squad di 25%, Man of Steel di 55%, bahkan bersanding dengan rekor film The Dark Knight karya Christopher Nolan (Direktur dari Interstellar, Inception dan The Dark Knight trilogy) yang selama ini mengukuhkan tempat pertama dengan konsensus 94%. Wonder Woman juga melompati seluruh rating film-film Marvel Cinematic Universe yang kini dibawah rumah mega produksi Disney. Menjadikannya film female superhero pertama dibawah kendali female director dari Hollywood yang memakan budget demikian besar dan mendapat respon luar biasa di pasar dunia.

Sosok Wonder Woman yang diperankan Gal Gadot melakukan debut perdananya di layar lebar pada film Batman v Superman. Ketika itu, karakternya melakukan exit scene dengan dialog yang sampai saat ini membuat saya merinding "A hundred years ago, i walked away from mankind. From century of horrors.. man made a world where standing together is impossible"
But what is so special about this Wonder Woman movie? Apa yang membuatnya begitu berbeda, dicintai banyak orang tetapi juga dibenci oleh satu negara?
Telah dipastikan, film superhero yang mengadopsi unsur mitologi Yunani ini tidak akan pernah tayang di Lebanon. Negara tersebut secara resmi meyakinkan diri mereka bahwa melakukan banned terhadap sebuah film yang aktor utamanya berasal dari negara Israel adalah hal yang benar. Gal Gadot, yang memerankan Wonder Woman dan Diana Prince (alter ego Wonder Woman) sekaligus, dikecam karena pernah mengabdi pada IDF (Israel Defense Force) sebagai bentuk wajib militernya. Mendengar ini, saya agak bersedih, karena seisi negara tersebut belum memiliki kesempatan untuk melihat pesan luar biasa dari film berdurasi 2,5 jam ini.

Film Wonder Woman mengangkat background detik-detik menjelang akhir Perang Dunia I. Yakk, satu lagi film dimana bangsa Jerman sekali lagi menjadi pihak si 'jahat'. Mungkin hanya sebagian orang sadari, komposer musik untuk track special Wonder Woman dalam film sebelumnya; Batman v Superman dan film-nya kali ini digarap oleh musikus asal Jerman, Hans Zimmer. Saya yang sempat menonton konser beliau di Jerman tahun lalu, mendengar Mr. Zimmer berpesan, "Dunia sedang dalam keadaan mengkhawatirkan, dan hati saya benar-benar hancur untuk korban-korban yang berjatuhan di Paris". Ketika konser tersebut diadakan, seluruh Eropa terguncang oleh kasus teror yang melanda Prancis. Saya dan teman-teman sekamar saya kerap mengecek berita di pagi hari setelah sarapan untuk melihat notice bahaya akan kemungkinan serangan airport, penembakan stasiun kereta atau berita penusukan orang di jalan. Saya ingat, sebelum tidur, saya dan mereka duduk membentuk lingkaran di atas tempat tidur kami, secara bergantian berdoa karena dengan pengecutnya kami dilanda perasaan takut akan serangan yang bisa terjadi kapan saja.
Satu hal yang tidak bisa saya lupakan dalam malam konser Mr. Zimmer adalah ketika pria paruh baya tersebut menyatakan bahwa ia bersyukur musik masih dapat menjadi agen perdamaian. Anda boleh memanggilnya pemimpi atau unrealistic. Tetapi apabila anda ada disana, melihatnya kemudian mempersembahkan 7 menit aransemen musik yang belum pernah ia perdengarkan kepada dunia dan menyebutnya sebagai 'musik untuk mengenang mereka yang terenggut nyawanya di Paris', anda akan percaya pada perkataannya ketika itu, demikian juga saya.
Berbulan-bulan sebelum Warner Bros memulai eksekusi marketing untuk film Wonder Woman, beberapa cast penting dari film ini beserta direktur film mereka, Patty Jenkins, terbang ke San Diego, Amerika Serikat. Ada satu momen yang mencuri perhatian saya dan membuat saya ketika melihat video tersebut, ingin sekali melihat hasil akhir dari karya mereka.
Tepatnya pada awal press conference, interviewer menanyakan Patty Jenkins mengenai apa yang membuatnya bergerak merampungkan film ini, ia menjawab bahwa mereka harus membuat cerita yang demikian 'real' karena dunia ini sedang dalam masa yang sangat kritis.
"The way news has been going, it's so hard making a movie while so many horrible things happening in the world. It's something that we believe in making this movie in the first place, which was.. the world needs love and forgiveness in such a huge way. It's not about who is right anymore. And having a hero that strong enough to be loving and forgiving, beautiful and kind. That's what Wonder Woman particularly stands for."

Pada kesempatan yang sama, Gal Gadot yang setahun lalu mendapat kritikan pedas karena tubuhnya dianggap kurang 'sexy' untuk menjadi Wonder Woman turut bercerita, "Sebelum melakukan shooting, dan masih dalam pendalaman karakter, aku menonton film dokumenter Putri Diana yang sebenarnya (Notes: alter ego Wonder Woman memiliki nama asli Diana, dan ia besar sebagai anak dari Ratu Amazon). "Disana dia berkata bahwa ia 'memimpin dengan hatinya, bukan dengan kepalanya'. Aku merasa Diana (Wonder Woman) yang kuinginkan adalah untuk menjadi seperti dia".
Ya, mungkin film ini ditolak di sebagian negara, mungkin actor yang memerankannya dibilang lahir dari bangsa yang salah. Namun apabila anda melihatnya dari kacamata seorang anak kecil yang datang digandeng orang tua mereka untuk menonton film ini pertama kalinya di layar lebar, yang anda lihat adalah sosok pahlawan yang masih naive, terlalu lurus, idealis dan bahkan dunia yang ia bela membuktikan bahwa ia bisa salah. Namun sosoknya memiliki hati yang demikian berani.
Spoiler alert, you know what she killed exactly at the end of the movie, rite?
Her hatred..
Satu-satunya karakter fiksional dan akan menjadi all time favorite untuk saya, karena mengajarkan the act of forgiveness adalah Sailor Moon karya komikus Jepang, Naoko Takeuchi. Elemen yang membuat saya jatuh cinta pada karakter Sailor Moon, dapat saya temukan dalam film ini.
Bagaimana kita bisa mengasihi musuh kita?
Bagaimana kita bisa memaafkan mereka lagi?
Bagaimana mungkin kita mengampuni mereka yang telah membunuh orang-orang yang kita sayangi ?
Film ini dapat memberikan jawaban yang anda cari.
Mungkin karakter-karakter hebat dengan hati besar di atas hanyalah karangan komikus belaka. Yes, they practically didn't exist in real life. But we could find their spirit in each one of us if we want. Saya belajar banyak dari sosok yang tidak pernah nyata. 'A hero who believe in love, who is filled with love, who believe in change and the betterman of mankind'.
Dear Wonder Woman, if each one of us could have 'at least' half of your heart or your braveness, surely we could solve halves of this world's biggest problem.
"Man made a world where standing together is impossible" (Diana Prince, BvS)
"But.. man are still good" (Bruce Wayne, BvS)
Writer not affiliated with Warner Bros and DC comics. Wonder Woman is a fictional character created by William Moulton Marston.

Comments